Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LHOKSUKUN -- Seratusan mahasiswa yang menamakan diri Aksi Bela Rakyat Aceh Utara dan Lhokseumawe berunjuk rasa di Gedung DPRK Aceh Utara, Kamis (12/1) sekitar pukul 11.30 WIB.

Demo itu berujung ricuh, karena terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dengan polisi yang mengawal unjuk rasa tersebut. Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah provinsi kemarin dan meluas hingga ke Banda Aceh.

Dalam orasinya, mahasiswa memprotes pemerintahan Joko Widodo–Jusuf Kalla (Jokowi-JK) yang menaikkan tarif dasar listrik (TDL), harga bahan bakar minyak (BBM), ongkos administrasi surat tanda kenderaan bermotor (STNK), buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB), serta persoalan lain yang muncul pada masa pemerintahan Jokowi-JK yang belum tuntas direalisasikan.

Untuk itu, mahasiswa mendesak pemerintah pusat mencabut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2016 tentang Tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PBBP), dan meminta serbuan tenaga kerja asing asal Cina ke Indonesia dihentikan.

Pengunjuk rasa juga meminta pemerintah menerapkan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 untuk perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial.

Saat demo berlangsung, seorang mahasiswa membakar ban mobil di tangga Gedung DPRK Aceh Utara. Polisi yang mengawal aksi demo itu berupaya memadamkan api dengan menendang ban mobil tersebut, sehingga terjadi saling dorong.

Aksi saling dorong kembali terjadi 15 menit kemudian, ketika mahasiswa menerobos pengawalan polisi untuk masuk ke Gedung DPRK Aceh Utara.

Akibat kejadian itu, seorang mahasiswa terluka dan baju almamater yang ia kenakan robek. Namun, aksi itu kembali tertib setelah Ketua DPRK Aceh Utara, Ismail A Jalil bersama Wakil Ketua H Mulyadi CH dan Sekwan Abdullah Hasbullah menemui para pendemo.

Amatan Serambi, mahasiswa mulai berkumpul di Lapangan Hiraq sekitar pukul 10.00 WIB, lalu menuju Tugu Rencong atau Simpang Kuta Blang, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, untuk berorasi. Aksi itu dikawal puluhan personel Polres Lhokseumawe.

Tak lama kemudian, mahasiswa longmarch ke Gedung DPRK Aceh Utara. Saat sedang berlangsung demo, mahasiswa meminta supaya Ketua DPRK Aceh Utara menemui mereka.

Namun, karena sudah 30 menit menunggu ketua dewan yang belum juga muncul, seorang mahasiswa membakar ban, sehingga kericuhan tak terelakkan.

Petugas terus berupaya memadamkan api dengan menendang ban mobil tersebut, sehingga terlibat aksi saling dorong.

Tak hanya itu, kericuhan terjadi lagi ketika mahasiswa hendak menerobos pengawalan polisi. Aksi berlangsung tertib, ketika Ismail A Jalil tiba di lokasi dan berjanji akan menindaklanjuti tuntutan mahasiswa.
Demo tertib

Sekitar pukul 14.30 WIB, mahasiswa kembali berdemo ke Gedung DPRK Lhokseumawe. Namun, sesampai di gedung dewan tersebut, Ketua DPRK Lhokseumawe M Yasir langsung menemui mereka dan mengajak mahasiswa untuk berdiskusi.

Setelah meneken pernyataan yang dibawa mahasiswa untuk disampaikan ke DPR RI, mahasiswa kemudian kembali ke Lapangan Hiraq untuk membubarkan diri secara tertib.

“Jika tuntutan kami tidak ditindaklanjuti, maka kami akan berdemo dengan massa dalam jumlah besar,” ujar Koordinator Aksi, Zahri Abdullah.
Ikut mendukung

Sementara itu, Ketua DPRK Aceh Utara, Ismail A Jalil di hadapan seratusan mahasiswa dari sejumlah kampus di Lhokseumawe dan Aceh Utara menyebutkan akan mendukung sepenuhnya tuntutan mahasiswa tersebut.

Ia juga berjanji akan menyampaikan tuntutan mahasiswa ke DPR RI dan akan membahas persoalan tersebut dengan Pemkab Aceh Utara supaya Pemkab Aceh Utara dapat menyampaikan persoalan tersebut ke pemerintah pusat. “Dalam pekan ini tuntutan itu akan kita kirim ke Jakarta,” demikian Ismail A Jalil. [] tribunnews.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.