Dilihat 0 kali

TamiangNews.com  -  Prangko tak hanya dikoleksi karena gambar indahnya. Juga kemampuannya membekukan peristiwa penting, misalnya bencana-bencana lingkungan di dunia.

Seorang ibu mengadu. Anaknya, remaja belasan tahun tak tahu apa itu prangko. Ia mengaku ribet menjelaskan, terlebih menarik minat anaknya untuk memakai prangko. Toh sudah ada email yang jelas dan real time diterima penerima surat?

Sementara di sebuah pojok Kantor Pos Renon Denpasar, 22 November lalu sejumlah kolektor prangko sibuk bertransaksi. Tawar menawar koleksi teman dan membeli keluaran terbaru, yakni sebuah sampul peringatan (commemorative cover) register No 286 oleh Perkumpulan Filatelis Indonesia Provinsi Bali.

Sampul peringatan ini berupa selembar amplop dengan desain sama dengan prangkonya. Warna warni, dengan gambar utama sepasang penari legong Bali, dekorasi khas Bali, dan gambar ekskavator. Desain ini mudah dikenali karena ikonik khas poster-poster aksi Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa. Walau sudah dimodifikasi dengan ornamen lain dan garis geometri khas yatra. Yatra ditafsir sebagai kondisi stabilitas juga sebaliknya, perlambang harmoni.

Prangko ini dipesan oleh Perkumpulan Filatelis Indonesia Bali ke desainernya Alit Ambara (Nobodycorp.). Pria berambut gimbal ini kerap mendesain poster-poster perlawanan warga terutama isu hak asasi manusia secara global, termasuk Bali Tolak Reklamasi ini. Prangko yang dicetak kali pertama hanya 500 unit ini diluncurkan di Regional Philately Exibition (Baliphex) 2016 dengan tajuk Reinventing Fine Art Filately of Bali, dihelat 22-26 November.

Alit dan komunitas filateli membubuhkan tanda tangan di sampul peringatan. Visualnya dianggap mencerminkan Bali yang tradisional sekaligus modern, dan menunjukkan kreativitas selain peringatan terhadap eksploitasi lingkungan. Desain prangko dicetak besar lalu dipajang sebagai latar panggung dan depan kantor pos menyapa pengunjung. Sebuah pemandangan baru di kantor pos.

“Saya gelisah, khusus meminta Alit mendesain. Saya ingin buka akses tak hanya untuk koleksi dan jual beli juga daya guna lain. Sebagai medium belajar generasi masa kini apa yang harus diketahui dari bangsa ini,” ujar Anak Agung Ayu Daninda Ketua Komunitas Filateli Kreatif Indonesia Bali-Nusa Tenggara.

Ia mengakui prangko kini tinggal sebagai barang koleksi. Dibeli, diamati, dan diperjualbelikan. Perempuan yang mengambil studi prangko ini melihat prangko bisa lebih dari sekadar tanda pembayaran biaya pos. Ia adalah jejak dan artefak sejarah bangsa. Untuk memulai menarik minat masyarakat terutama kaum muda, jadilah kolaborasi dengan Alit Ambara yang berhasil dalam eksplorasi visual sejumlah gerakan sosial di Indonesia ini.

Merekam bencana ekologi ini menjadi pilihan Alit Ambara. Ia berharap prangko seri bencana ekologi seperti gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa dan peristiwa lain bisa diluncurkan resmi oleh negara yang biasanya dilakukan Peruri tiap tahunnya. “Diterbitkan negara untuk merekam dinamika sosial bahwa itu memang terjadi,” ujar Alit.

Dalam sejumlah prangko terbitan sebelumnya ada tentang letusan gunung, misalnya seri Bentjana Alam 1953. Kemudian letusan Gunung Merapi 1954 dengan nominal beragam mulai 35 sen sampai Rp 1. Juga rekaman peristiwa Gunung Agung di Bali, dan lainnya.

Alit memberi perspektif selama ini imaji Bali dalam prangko lebih banyak terkesan nirkonflik. “Bali diredam agar konflik tak dikenal,” tambahnya. Pemilihan penari legong dalam desainnya untuk elemen tradisi yang dikontraskan dengan bahasa tubuh penari yang seperti bersuara atau melawan sesuatu.

Sejumlah pihak sedang berkolaborasi menyiapkan desain-desain seri Bali Tolak Reklamasi lainnya dari puluhan poster Alit yang sudah beredar dan bisa dicetak warga dengan mengunduhnya di posteraksi.org.

Prangko disebut bisa jadi medium propaganda alternatif. “Bisa digunakan untuk kirim surat protes,” Sugi Lanus, peneliti lontar memberi usulan.

Bahwa gerakan sosial tak hanya tercatat dalam bentuk tulisan juga benda pos yang kerap dijadikan medium propaganda. Misalnya di era orde baru yang banyak sekali mengeluarkan prangko seri presiden Soeharto dan program pemerintah.

Ngurah Surya Hadinata dari Perkumpulan Filantelis Indonesia daerah Bali mengaku tertarik mengoleksi prangko Alit karena dicetak terbatas. “Kolektor tertarik biasanya karena peristiwa,” katanya. Selama ini isu lingkungan biasanya terbit dalam seri hari lingkungan hidup dan hari cinta satwa seperti gambar flora dan fauna.

Alit Ambara mungkin bisa disebut sebagai pembuat poster paling berpengaruh dalam gerakan ini. Jika tidak berpengaruh, setidaknya dialah yang paling produktif. Ilustrasi karya sarjana seni patung dari Institut Kesenian Jakarta pada 1993 ini lah yang paling banyak digunakan secara resmi oleh Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI). Poster itu kemudian direproduksi secara massif lewat stiker, kaos, baliho, maupun materi kampanye lain.

Namun, jauh sebelum munculnya gerakan Bali Tolak Reklamasi, poster-poster Alit juga sudah mewarnai sejarah gerakan perlawanan di Republik ini. Bahkan sejak zaman represi Orde Baru.

Posternya banyak berbicara tentang hak asasi manusia lewat pergerakan buruh migran, penghilangan paksa aktivis reformasi, pemiskinan petani, kekerasan, perang, sampai menciptakan desain ikonik untuk gerakan Bali Tolak Reklamasi pada 2013.

Dalam kurun tiga tahun (2010-2013) saja, ilustrator cum-aktivis kelahiran Singaraja, Buleleng ini memproduksi sekitar 800 poster. Kebanyakan propaganda kampanye sosial politik dalam dan luar negeri, terutama isu hak asasi manusia (HAM). [] National Geographic Indonesia. Fhoto.

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.