Dilihat 0 kali

OLEH ZULHAM WAHYUDANI

TamiangNews.com -- alumnus Pascasarjana UIN Ar-Raniry dan Postgraduate Universiti Malaya, melaporkan dari Kuala Lumpur, ADA hal menarik ketika saya melaksanakan shalat Jumat di masjid-masjid Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia.

Pertama, sebelum waktu shalat tiba, ada acara ceramah mengenai banyak hal soal agama.Misalnya, topik yang pernah saya dengar dibahas dalam ceramah itu adalah tentang khalwat dan zina yang wajib dijauhi, serta tentang nikah yang sesuai dengan syariat Islam.

Awalnya saya berpikir ini adalah khutbah Jumat. Namun, setelah mengamati penceramahnya santai saja dan malah aktif mengajak jamaah berkomunikasi, barulah saya sadar bahwa ia bukan sedang berkhutbah, melainkan sedang menyampaikan kajian (syarahan).

Saya juga telajur memprediksikan bahwa penceramah tersebutlah yang bakal bertindak menjadi khatib Jumat. E, teryata salah. Khatibnya ternyata orang lain yang sudah diundang tersendiri.

Nah, kalau kita datang pas pada waktu shalat Jumat tiba, maka kita hanya akan mendengar khutbah Jumat saja, tidak kebagian isi ceramah yang terkadang sangat kontekstual. Kita termasuk orang yang merugi.

Kedua, isi atau materi khutbah dibacakan dan redaksinya serupa atau sama untuk seluruh masjid di Kuala Lumpur. Pernah saya shalat Jumat di Masjid Apium (masjid di dalam kawasan kampus) dan kawan saya shalat Jumat di Chow Kit (kawasan mirip Tanah Abang di Jakarta). Malamnya, kami diskusi sambil makan malam dan merembet ke materi khutbah Jumat siang tadi.

Saya terkejut dengan jawaban mereka bahwa isi khutbahnya sama dan isinya materi yang disampaikan mengikuti momen atau keadaan. Misalnya, baru masuk musim liburan sekolah, maka isi khutbahnya seputar bagaimana mengisi liburan yang islami.

Kalau sedang musim haji, maka isi khutbahnya sudah tentu motivasi atau hukum bagaimana melaksanakan rukun haji. Pada musim pemilu pun tidak luput topik pemilu dibahas khatib Jumat.

Hal ini perlu dicontoh oleh masyarakat Aceh khususnya, karena saya melihat bahan atau materi khutbah di Aceh tergantung kepada sang khatib.

Akibatnya, khatib yang kurang melihat lingkungan dan situasi akan menyampaikan materi yang kurang kontekstual. Contohnya sekarang, masyarakat Aceh sedang musim pilkada, tapi khutbahnya tentang tata cara berwudhuk.

Ketiga, para khatib Jumat dan penceramah sudah diseleksi oleh pemerintah. Info ini saya dapatkan dari seorang ustaz yang sudah lama mengajar dan tinggal di Kuala Lumpur. Menurutnya, semua khatib dan penceramah wajib ikut tes atau ujian untuk mendapatkan sijil (ijazah, sertifikat, atau surat) yang menjelaskan dianya “aman”. Artinya, sang khatib/penceramah tersebut bebas dari virus-virus penyakit Islam, seperti liberalisme, Wahabi, Syiah, dan ateis.

Upaya ini bolehlah kita beri apresiasi tinggi untuk kelangsungan praktik keagamaan bagi masyarakat muslim di Kuala Lumpur, sehingga orang-orang liberal, Wahabi, dan Syiah tidak bebas untuk menabur benih ajarannya di tengah umat.

Nah, materi khutbahnya sudah disiapkan oleh pemerintah bagian keagamaan. Jadi, sang khatib yang sudah mendapatkan sijil tinggal baca saja. Makanya tidak heran kalau kita lihat sang khatib Jumatnya mayoritas muda-muda.

Jamaah juga bisa membaca isi khutbah melalui infocus yang layarnya cukup besar terpampang di dinding depan.Keempat, durasi khutbah relatif singkat. Dikarenakan materinya sudah ada dan tinggal dibaca saja, maka durasi penyampaiannya akan selesai lebih singkat.

Menurut saya, ini hal positif karena jamaah punya kegiatan yang berbeda setelah shalat Jumat dan biasanya sebuah kantor (yang saya dengar berdekatan dengan Masjid India) memberi izin kepada karyawannya untuk jumatan hanya dua jam.

Dalam masa dua jam itulah mereka harus makan, istirahat, shalat Jumat, dan segera kembali ke kantor. Nah, bagaimana kalau durasi khutbahnya panjang? Bisa jadi kelaparan, terlambat, dan terganggu agenda si karyawan tersebut.

Di samping itu, durasi khutbah yang panjang juga biasanya memunculkan dilema: jamaah bosan, jenuh, atau bahkan ada yang ketiduran, apalagi kalau khatibnya kurang diminati.

Kelima, adanya tambahan doa untuk pemimpin pemerintahan. Sang khatib, pada khutbah kedua, setelah membacakan doa untuk kaum muslimin pada umumnya, secara khusus membacakan doa untuk pemimpin negeri mereka.

Jika masjidnya di Kuala Lumpur, maka ada doa untuk Yang Dipertuan Agong. Tapi jika di masjid negeri, misalnya di Selangor atau di Negeri Sembilan, maka doanya bukan untuk Yang Dipertuan Agong, melainkan untuk sultan. Namun, ada juga yang menggabungkan, doa untuk Yang Dipertuan Agong juga untuk sultan.

Hal ini bagus untuk kita tiru agar pemimpin-peminpin Aceh seperti gubernur dan bupati/wali kota didoakan menjadi baik jika ia buruk dan menjadi lebih baik jika ia sudah baik.

Saya kira, ada hal-hal positif yang bisa kita petik dari praktik jumatan di Malaysia ini agar kita menjadi umat yang lebih baik serta mendapat pemimpin yang baik, sehat, dan mencintai rakyatnya. [] tribunnews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.