Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebagian besar rumah yang roboh oleh gempa di Pidie Jaya dan sekitarnya adalah rumah yang tidak tahan gempa. Padahal Aceh adalah daerah yang sudah tak asing dengan gempa bumi.

"Sebagian besar belum tahan gempa, masyarakat pedesaan yang berekonomi menengah ke bawah belum memiliki rumah tahan gempa," kata Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada detikcom, Jumat (9/12/2016).

Sutopo menilai pengetahuan kebencanaan dari masyarakat di Aceh memang meningkat, namun pengetahuan itu belum menjadi sikap dan perilaku, misalnya berwujud pembangunan dengan konstruksi tahan gempa. Bukan sepenuhnya salah masyarakat, karena rumah tahan gempa juga tak murah.

"Kalau hanya dibebankan ke masyarakat, ya masyarakat keberatan. Ada yang bilang biayanya lebih mahal 30 sampai 50 persen daripada rumah biasa, terutama biaya di konstruksinya," kata Sutopo.

Maka solusinya adalah subsidi dari pemerintah. Bisa saja, kata Sutopo, biaya diambilkan dari dana desa. Selain pembangunan rumah tahan gempa, perlu pula latihan menghadapi risiko bencana dan sosialisasi terus menerus.

"Perlu diciptakan subsidi dari pemerintah. Bisa juga diadakan insentif untuk pembangunan rumah tahan gempa oleh Dinas Pekerjaan Umum setempat seperti pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan, ini reward," kata Sutopo.
Seperti apa rumah tahan gempa yang cocok? Tentunya rumah yang sesuai dengan karakteristik masyarakat Aceh.

Rumah tahan gempa di Yogyakarta misalnya, ada yang berbentuk 'rumah teletubies' belum tentu cocok dengan masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh sendiri punya Rumoh Aceh berwujud rumah panggung kayu.

"Kalau rumah tradisional rumah kayu itu malah tahan gempa. Itu mampu merespons goncangan. Tapi kan kayu juga lebih mahal, belum lagi orang menilai rumah tembok itu adalah rumah orang yang berhasil," kata Sutopo.

Perlu pula pemetaan mendetail tentang kawasan rawan gempa. Dari pemetaan yang disebut 'micro zoning' ini, bakal diketahui potensi gempa maskimum di kawasan. Potensi gempa ini bisa merujuk ke kaidah-kaidah pembangunan yang harus dipenuhi di kawasan itu.

"Sekarang, ruko-ruko roboh yang dibangun pengembang itu tidak memperhatikan kaidah tahan gempa lagi. Konstruksinya kita lihat tidak terlalu kuat," kata Sutopo.

Data sementara yang dikemukakan BNPB, ada 10.534 unit rumah rusak, 2.015 rumah di antaranya rusak berat, 85 rumah rusak sedang, dan 8.434 rumah rusak ringan. 105 ruko roboh, 19 ruko rusak berat, dan 55 masjid rusak berat. Beberapa bangunan seperti kantor pemerintah, sekolah, musala dan lainnya terdapat kerusakan.

"Nanti rehabilitasi dan rekonstruksi, pemerintah akan memberikan bantuan stimulus dengan desain tahan gempa. Nominal bantuannya nanti dihitung dulu berdasarkan kerugian kerusakannya," tandas Sutopo. [] detik.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.