Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SINGKIL -- Harga telur ayam ras di sejumlah pasar di Kabupaten Aceh Singkil dalam sepekan terakhir ini sudah mengalami kenaikan 27 persen, karena permintaan meningkat sementara pasokan dari sentra produksi terbatas.

Pantauan di pasar Singkil, Kamis, harga telaur ayam ras saat ini Rp42 ribu/papan (isi 30 butir), sedangkan sebelumnya hanta Rp33 ribu/papan.

Warga dan pedagang kios kecil mengeluhkan kenaikan harga tersebut, sehingga daya beli konsumen terhadap protein pengganti lauk pauk itu semakin melemah.

"Naiknya harga telur ini sangat menyulitkan masyarakat, terutama bagi kami yang penghasilannya pas-pasan," ujar Andi, seorang konsumen pedagang warung nasi goreng di Ketapang Indah, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil.

Menurutnya, kenaikan harga itu sangat jauh dari harga biasanya sehingga membuat banyak warga yang mengurungkan niat untuk membeli telur.

Dikatakan, pemicu kenaikan harga telur sebulan terakhir Aceh Singkil dilanda banjir, karena pengakuan pemasok telur yang membawa mobil kontainer stok telur sangat minim, akibatnya harganya semakin menanjak.

Begitu juga yang disampaikan Afdakir, pedagang pengecer di Kecamatan Singkil. Dia mengaku, sulit untuk menjual kembali telur itu kepada pembeli karena jika harga di pasar tinggi, otomatis harga jual telur di tingkat pengecer juga akan tinggi.

"Kalau dijual eceran dengan harga yang lebih tinggi dari harga biasanya, daya beli lemah, perputaran modal lambat, bahkan tak ada yang mau membeli, sehingga, kalau semua telur ini terlalu lama disimpan bisa busuk," jelasnya.

Menurut informasi pedagang telur di pasaran, beberapa kecamatan lainnya juga mengalami kenaikan harga telur tersebut, bahkan kabarnya naik lagi mencapai Rp45 ribu/papan, akibat kurangnya stok.

"Biasanya harga telur hanya sekitar Rp34 ribu/papan, dan jika dijual perbutir hanya sekitar Rp1.000-Rp1.500, namun kini harga telur dijual Rp2.000 hingga Rp2.500/butir.

Pihak pedagang eceran, kata Yardi salah seorang pedagang eceran, merasa terkadang serba salah dalam penyesuaian harga, sebab masyarakat tidak mengerti kalau telur sedang mahal.

Para pembeli terkadang meminta harga murah dan menyalahkan karena ulah pedagang, padahal, pedagang membeli telur itu dengan harga tinggi dari pedagang grosir di Rimo, Kecamatan Gunung Meriah, Aceh Singkil.

"Harga beli di Rimo juga sangat tinggi, jadi kami mau tidak mau terpaksa menjual dengan harga tinggi, mengambil untung sedikit," katanya.

Menurut Yardi, kemungkinan besar juga biasanya kenaikan harga itu disebabkan minimnya persediaan di grosir Medan, Sumatera Utara, pusat pasokan telur ayam ras.

Sementara, permintaan di tingkat masyarakat umum sangat tinggi pengganti lauk itu. "Pihak kami, pedagang kecil berharap harga telur kembali normal dan terjangkau, sehingga dapat meringankan beban masyarakat," ujar dia. [] antaranews.com, photo : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.