Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SIGLI -- Kelangkaan elpiji isi 3 Kg (tabung melon) dilaporkan sulit didapat sejak satu minggu terakhir, khususnya di Kecamatan Batee, Pidie. Warga di kawasan ini pun terpaksa mencarinya ke kecamatan lain. Jika pun ada, warga terpaksa membeli dengan harga Rp 28.000-Rp 30.000 per tabung.

“Kelangkaan elpiji subsidi di Kecamatan Batee ini sudah terjadi sejak seminggu lalu. Kami harus mencarinya hingga Kecamatan Grong-Grong dan Kecamatan Indrajaya, dengan harga tinggi,” kata Abubakar (43), warga Gampong Glumpang Lhe, Kecamatan Batee, Senin (19/12).

Selain harus membeli dengan harga tak wajar, warga di Kecamatan Batee ini pun harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi ke kecamatan lain demi mendapatkan elpiji tersebut.

“Persoalan kelangkaan elpiji di Pidie ini sudah sering terjadi, tapi tidak ada solusi dari pemerintah. Masyarakat selalu jadi korban karena lemahnya pengawasan dalam hal distribusi elpiji ini,” ungkap Abdurrahman (60), warga Gampong Kule, Kecamatan Batee.

Asisten II Setdakab Pidie, Maddan Marhaban MSi, Senin (19/12) mengaku sudah satu bulan terakhir, tim tidak turun ke lapangan guna mengawasi pendistribusian elpiji melon ini. Sehingga pihaknya belum mengetahui penyebab terjadinya kelangkaan elpiji melon di Kecamatan Batee.

“Dua bulan lalu tim sudah diterjunkan ke lapangan. Jika sekarang kembali terjadi kelangkaan elpiji di Batee, kami akan turunkan lagi tim untuk mengecek penyebab kelangkaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kuota yang diberikan untuk Pidie telah memadai. Hanya saja ada dugaan permainan oleh pihak pangkalan dalam mendistribusikannya. [] serambinews.com, photo : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.