Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KARANG BARU -- Pembanggunan jalan elak sepanjang 17,3 kilometer di AcehTamiang sangat mendesak dilakukan karena kondisi jalan nasional yang ada saat ini sudah sangat padat lalu lintasnya, sehingga tidak jarang nyawa warga Tamiang melayang akibat bersenggolan sesama kenderaan.

Jalan ini, mulai dibangun di Desa MedangAra Kecamatan Karang Baru direncanakan tembus ke Kebun Tengah Kecamatan Kejuruan Muda.

Pembentukan badan jalan mulai dikerjakan pada masa Bupati Aceh Tamiang dijabat Alm H Abdul Latif, tepatnya tahun 2008 sampai tahun2012. Namun pada tahun berikutnya, pembangunan jalan ini terhenti.

Sejak telantar empat tahun lalu, sebagianbadan jalan mulai ditumbuhi rumputliar. Dari panjang jalan yang direncanakan 17,3 kilometer, yang baru erbentuk badan jalan hanya sepanjang 3kilometer, sisanya belum dikerjakan.

Padahal keberadaan jalan ini penting untuk membuka isolasi sejumlah desa, serta menjadi jalan alternatif evakuasi jika sewaktu-waktu Aceh Tamiang dilanda banjir seperti tahun 2006.

Selain itu, keberadaan jalan ini juga memudahkan warga mengeluarkan hasilperkebunan dan pertanian. Namun akibat tidak fokusnya terhadap jalan elak ini, membuat pembangunannya berjalan lamban. Kendala utama terkait pembebasan lahan.

“Dibandingkan Kota Langsa yang juga membanmgun jalan elak, Kabupaten Aceh Tamiangjauh tertinggal dengan daerah tetangga.

Padahal pembangunan jalan elak di Langsa dan di amiang dimulai dalam waktu bersamaan,” kata Wakil KetuaDPRK Aceh Tamiang, Juanda SIP.

Ia mengatakan, DPRK Aceh Tamiang setiap tahun mendesak agar pembangunan jalan elak dilanjutkan dan setiap tahun dianggarkan dana pembebasanlahan.

Namun pembebasan lahan belum juga terlaksana. “Pada tahun 2017, dewan berkomitmen agar jalan elak ini dilanjutkan kembali.

Karenanya, dalam pembahasan APBK Aceh Tamiang 2017, dewan sepakat menganggarkan dana pembebasan lahan jalan elak sebesar Rp 7,5 miliar dalam APBK Aceh Tamiang,” ujarnya.

Ia berharap, eksekutif harus segeramelakukan pembebasan tanah, disamping melobi anggaran untuk pembentukan badan jalan, baik ke pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat. Sehingga, pembangunannya bisa berjalan seiring dengan kegiatan pembebasan lahan.

“Pembangunan jalan elak ini sudah mendesak, karena jalan nasional ang ada sudah sangat padat dan sempit, serta tidak cocok lagi untuk dilintasi bis dan truk,” ujarnya. [] tribunnews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.