Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LHOKSUKON -- Aparat Komando Rayon Militer (Koramil) dan Kepolisian Sektor (Polsek) Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, menyita 12 helai baju seragam berbordir Bintang Bulan dan lambang Burak-Singa (mirip bendera dan lambang Gerakan Aceh Merdeka -red) di kios Rizal Tailor, Senin (19/12). Kios penjahit pakaian tersebut berada di kawasan Kompleks Pasar Sayur Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Selain 12 helai baju seragam, aparat gabungan juga menyita 18 lembar bordiran bendera Bintang Bulan ukuran 4x6 cm, 12 buah lambang Burak-Singa, delapan pasang baju seragam motif loreng kotak-kotak, enam pasang baju warna hitam, empat buah bordiran lambang Partai Aceh, dan sebuah bordiran simbol Satgas Partai Aceh.

Benda lainnya yang disita aparat adalah sebuah bordiran bersimbol Burak-Singa berbentuk segitiga dan satu unit mesin bordir merek Singer yang digunakan untuk membordir baju-baju seragam tersebut. Termasuk satu unit laptop yang digunakan penjahit untuk meng-input desain simbol Burak-Singa versi bordiran.

“Kini, semua barang bukti tersebut sudah diamankan di Mapolres Aceh Utara,” kata seorang polisi kemarin. Berdasarkan informasi yang diperoleh Serambi, personel gabungan dari Polres Aceh Utara, Polsek, dan Koramil Tanah Jambo Aye mendapat laporan dari warga bahwa di kios Rizal Tailor sedang dijahit seragam loreng yang ada bordiran bendera Bintang Bulan dan lambang Burak-Singa.

Untuk memastikan info tersebut, petugas mendatangi kios Tailor Rizal. Petugas ternyata menemukan pekerja sedang menjahit baju seragam yang memang terdapat atribut berupa bordiran bendera Bintang Bulan dan lambang Burak-Singa. Lalu petugas menyita seragam dan atribut tersebut, termasuk mesin bordir merek Singer dan sebuah laptop.

Dari tukang jahit bernama Afriza, petugas mendapat keterangan bahwa kain loreng tersebut dititipkan Bared (nama panggilan) asal Simpang Ulim, Aceh Timur, sepanjang 22 meter.

Pria itulah yang meminta Afriza untuk menjahit baju dan celana dari kain tersebut. Ia juga menyerahkan bordiran bendera Bulan Bintang. Seragam itu dijahit untuk enam orang.

Bersama barang bukti tersebut, polisi membawa Afriza, warga Samakurok, Kecamatan Tanah Jambo Aye, ke Mapolres Aceh Utara, karena dialah pemilik Rizal Tailor. Tiga penjahit yang bekerja di tempatnya juga diboyong polisi ke mapolres untuk dimintai keterangan.

Mereka adalah Tarmizi (27), warga Kecamatan Madat, Aceh Timur, Ibrahim (58), dan Zulfikar (33), keduanya warga Kecamatan Tanah Jambo Aye.

Afriza mengaku, setelah kejadian itu ia belum berani membuka tokonya untuk mulai menjahit lagi. “Sudah dua hari kios kami tidak buka. Rencananya dalam dua hari ke depan baru buka lagi,” katanya.

Menurut Afriza, ia belum pernah menjahit baju seragam motif loreng, apalagi yang memakai atribut bendera Bintang Bulan dan lambang Burak-Singa.“Saya benar-benar tidak tahu kalau itu dilarang.

Kalau kami tahu sebelumnya bahwa itu dilarang, tentulah kami tidak bersedia menerima pesanan tersebut. Kami ini kan masyarakat kecil, hanya menjual jasa untuk mencari rezeki,” ujar Afriza.

Sementara itu, Kapolres Aceh Utara, AKBP Ahmad Untung Surianata kepada Serambi kemarin menyebutkan, para penjahit dan pemilik usaha tailor itu dibawa ke mapolres untuk dimintai keterangan, tapi tidak ditahan.

“Kemarin mereka langsung dikembalikan ke keluarganya. Mereka dihadirkan ke polres untuk dimintai keterangan. Termasuk hari ini ada juga yang dihadirkan ke polres untuk dimintai keterangan,” kata Kapolres.

Menurut Kapolres, para penjahit itu mengaku tidak mengetahui bahwa menjahit atribut Bintang Bulan dan Burak-Singa itu dilarang. Karena alasan itu, maka untuk kali ini mereka tidak ditahan. Tapi diharapkan ke depan mereka tak lagi mengulanginya. Jika kedapatan, maka akan diproses.

“Tidak boleh memakai atribut lambang tersebut di pakaian seragam, kecuali lambang partai,” ujar Kapolres Aceh Utara.

Sementara itu, Dandim Aceh Utara, Letkol Inf Eka Oktavian Wahyu Cahyono dalam layanan pesan singkat (sms) yang diterima Serambi kemarin menyebutkan, TNI komit untuk membantu kepolisian dalam menjaga ketertiban umum.

“Terkait penemuan atribut tersebut, saya ingin berpesan agar bersabar menunggu keputusan dan menghormati hukum dan aturan yang berlaku di NKRI, serta menjaga suasana damai di Aceh, khususnya Aceh Utara,” ujar Dandim.

Sabar menunggu yang dimaksud Dandim adalah menyangkut status bendera Bintang Bulan dan Burak-Singa yang pada tahun 2013 lalu ditetapkan secara aklamasi oleh DPRA sebagai bendera dan lambang Aceh.

Namun, karena pemerintah pusat menilai bendera dan lambang tersebut sepenuhnya mirip bendera separatis (GAM), maka pembicaraannya ditangguhkan dan dilakukan cooling-down sampai empat tahap. Hingga kini, meski sudah berselang tahun, belum ada juga keputusan final apakah Aceh berhak memiliki bendera dan lambang yang demikian atau tidak. [] tribunnews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.