Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LANGSA -- Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa telah melakukan pemusnahan terhadap obat bantuan masa tsunami tahun 2004 yang diduga tanpa melalui mekanisme dan prosedur.

Informasi yang diterima MedanBisnis, Senin (28/11), obat-obatan bantuan yang dimusnahkan berjumlah lebih kurang delapan ton, dan sebahagian telah dilakukan pemusnahan pada beberapa minggu lalu dengan cara dibakar secara bertahap di RSUD Langsa.

Sementara pada 12 November 2016, sekitar pukul 15.00 WIB, sebahagian obat-obatan itu atau berjumlah sekitar tiga ton diduga dibawa keluar dari rumah sakit menggunakan mobil pick up L300.

"Kita tidak tau dibawa ke mana, dan apakah obat-obatan itu dimusnahkan atau tidak kita juga tidak mengetahuinya," kata sumber yang enggan ditulis namanya.

Jikapun dimusnahkan, menurutnya, hal itu adalah tindakan yang salah besar.
Karena berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 3 Tahun 2015 tentang Peredaran, Penyimpanan, Pemusnahan dan Pelaporan Narkotika, Psikotropika dan Prekursor Farmasi, pada pasal 40, ayat huruf b, menyebutkan Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Dinas Kesehatan Provinsi, Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat, dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota menetapkan petugas di lingkungan menjadi saksi pemusnahan sesuai dengan surat permohonan sebagai saksi.

Kemudian, huruf C, menjelaskan pemusnahan disaksikan oleh petugas yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud pada huruf b.

Sementara itu Direktur RSUD Langsa Syarbaini, ketika dikonfirmasi MedanBisnis via telepon menjawab, setelah ditanyakan kepada Kepala Sanitasi Amir Fauzi, tidak ada obat bantuan tsunami yang dibawa ke luar.

Ia mengakui, beberapa minggu yang lalu telah memerintahkan bagi farmasi untuk memusnahkan obat bantuan tsunami tersebut, dan setelah dibuat berita acara maka obat itu diserahkan ke bagian sanitasi untuk dimusnahkan.

"Jumlah keseluruhan obat bantuan tsunami yang dimusnahkan itu sebanyak enam ton, dan telah dimusnahkan sebahagian. Namun karena mesin generatornya rusak, maka pemusnahan dihentikan," terangnya.

Lanjutnya, kapasitas mesin generator untuk pemusnahan obat-obatan hanya 100 kilogram, dan setiap sekali pemusnahan hanya dilakukan sebanyak 80 kilogram.

"Dalam satu hari, kita paling bisa melakukan pemusnahan sebanyak dua kali dan dengan jumlah enam ton itu, maka diperkirakan memakan waktu pemusnahan selama dua bulan," jelasnya. [] medanbisnisdaily.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.