Dilihat 0 kali

TamiangNews.com -- Jika ke Nangroe Aceh Darussalam (NAD), sempatkan berkunjung ke Kecamatan Manyak Payed -- dulu bernama Kampung Manyak Pahit -- dan mendengar 'dongeng' pertempuran pasukan Majapahit versus Kerajaan Tamiang dan kekalahan memalukan Gajah Mada.

Manyak Payed saat ini adalah satu dari 12 kecamatan di Aceh Tamiang. Dulu, saat masih bernama Manyak Pahit, Manyak Payed adalah salah satu kampung di Kabupaten Aceh Timur.

Tutur tinular masyarakat setempat menyebutkan Manyak Payed berasal dari Majapahit -- imperium Hindu di Pulau Jawa yang mencapai puncak keemasan di bawah Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Namun, belum ada penelitian arkeologis yang membukatikan kaitan Manyak Payed dan Majapahit.

Studi literatur terbatas pada Negara Kertagama. Kitab karya Mpu Tantular itu memang menyebut Tamihang -- yang diyakini sebutan untuk Tamiang -- sebagai satu dari beberapa kerajaan yang ditaklukan Gajah Mada dalam Ekspedisi Militer Pamalayu.

Negara Kertagama, yang ditulis antara 1350-1389, juga menyebut Jambi, Pelembang, Toba, Darmasraya, Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar, Pane, Kampe (Pulau Kampai), Haru (Aru), Mandailing, Perlak (Peureulak), Padang Lwas (Padang Lawas), Samudra, Lamuri, Batan, Lampung, dan Barus.

Di Kalimantan, Mpu Prapanca menyebutnya Pulau Tanjungnegara, Gajah Mada menaklukan Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, dan Lawai.

Ekspedisi Pamalayu ke Aceh, menurut sejarawan lokal HM Zaenuddin, dimulai dengan menyerang Samudera Pasai tahun 1350 Masehi. Konon, Gajah Mada memimpin langsung pertempuran ini.

Namun, pasukan Majapahit tidak pernah mencapai jantung kekuasaan Samudera Pasai. Gajah Mada, bersama ribuan pasukan yang masih segar, terluka, dan tewas, tertahan di Sungai Raya, Peureulak, dan Kuala Jambo Aye.

Setelah sekian pekan bertahan, Gajah Mada memutuskan tidak melanjutkan ekspansi ke Samudera Pasai. Sebagai ganti, sang mahapatih mengarahkan sasaran ke Tamiang -- kerajaan kecil di bawah perlindungan Samudera Pasai.

Cerita yang diwariskan masyarkat menyebutkan Gajah Mada mendapat informasi tentang Putri Meuga Gema -- anak raja Tamiang -- yang cantik jelita. Gajah Mada berniat menaklukan Tamiang untuk mendapatkan sang putri, dan dipersembahkan kepada Prabu Hayam Wuruk.

Gajah Mada mendirikan pos komando di dekat kota Langsa saat ini, sebelum merencanakan penyerangan ke jantung Kerajaan Tamiang. Penduduk setempat menyebut pos komando, lengkap dengan perbentengannya, sebagai Manyak Pahit. Seiring waktu, Manyak Pahit berubah menjadi Manyak Payed.

Serangan ke Kerajaan Tamiang dimulai dengan menaklukan desa-desa sekitar; Telaga Tujoh, Aramiah, Bayeun, Damar Tutong, dan lainnya. Gajah Mada memaksa masyarakat desa mengakui kekuasaan Majapahit di Manyap Payed.

Tidak mudah. Perbedaan adat-istiadat dan agama membuat pemerintahan Majapahit di Manyak Payed tidak berjalan. Aceh Tamiang saat itu, seperti tanah Melayu lainnya, telah mengenal Islam. Majapahit adalah kerajaan Hindu terbesar di Nusantara.

Gajah Mada tidak langsung menyerang ke Benua, ibu kota Kerajaan Tamiang. Ia membentuk tim diplomatik, dengan tugas meminang Putri Meuga Gema, dan membujuk Raja Muda Sedia bersama menyerang Samudera Pasai.

Raja Muda Sedia menolak kedua permintaan itu. Gajah Mada tahu diplomasi akan gagal, dan segera menyiapkan pasukan menyerang Benua melalui Kuala Besar -- di sekitar Kuala Peunaga

Raja Muda Sedia mengirim utusan ke Samudera Pasai untuk meminta tambahan pasukan. Bersama tambahan pasukan dari Samudera Pasai, Laksamana Kantommana memukul mundur pasukan Majapahit sampai ke sebuah pulau tidak jauh dari Teluk Aru -- kini bernama Pangkalan Susu.

Sebuah kuala yang menjadi lokasi kekalahan pasukan Majapahit kini bernama Kuala Raja Ulak. Dalam bahasa setempat, ulak artinya mundur.

Kekalahan pertama ini tidak membuat Gajah Mada memutuskan pulang ke Pulau Jawa. Ia mengkonsolidasi pasukan, dan menyusun strategi baru.

Serangan tidak lagi lewat laut, tapi dengan mengirim pasukan menelusuri sungai-sungai kecil di hilir Tamiang. Gajah Mada juga membuat terusan yang menghubungkan salah satu alur sungai kecil ke Sungai Tamiang. Terusan itu kini dikenal dengan nama Sungai Kurok Dalam. Kurok, dalam bahasa setempat, adalah menggali atau keruk.

Terusan itu memungkinkan Gajah Mada menggerakan pasukan dalam jumlah besar ke Kampung Durian -- tidak jauh dari Benua, jantung Kerajaan Tamiang. Beberapa hari kemudian pertempuran berkecamuk di Kampung Landoh.

Panglima Lela dari Landoh melapor ke Raja Muda Sedia bahwa pasukan Majapahit terus mendekati Benua. Raja Muda tidak menggubris, karena yakin pertahanan laut di Kuala Peunaga sangat kuat.

Gajah Mada mencapai istana Kerajaan Tamiang dan menguasainya. Raja Muda Sedia dan permaisuri lolos dari kepungan, tapi tidak dengan Putri Meuga Gema. Sang putri bersembunyi di sebuah gong besar, ditemukan dan ditawan.

Pasukan Majapahit membawa Putri Meuga Gema ke kapal untuk dibawa ke Pulau Jawa. Namun kapal yang membawa sang putri mengalami kebocoran dan nyaris karam. Kapal terpaksa berlabuh di pelabuhan terdekat.

Peristiwa itu diketahui pihak istana Samudera Pasai. Tuanku Ampon Tuan, tunangan Putri Meuga Gema, mengirim pasukan untuk membebaskan sang putri. Operasi berlangsung sukses. Putri Meuga Geuma diselamatkan, dan lokasi perbukitan tempat sang putri diselamatkan disebut Bukit Selamat.

Di Kuala Peunaga, Laksamana Kantommana -- setelah mendapat informasi Benua jatuh ke tangan pasukan Majapahit -- mengirim pasukan melewati sungai-sungai kecil. Di perjalanan mereka bertemu pasukan Majapahit yang ditugaskan mencari Putri Meuga Gema, yang dibawa kabur tunangannya.

Sisa pasukan Majapahit, dengan kapal-kapalnya, mundur ke laut. Laksamana Kantommana tidak menyerang mereka, karena yakin Gajah Mada dan pasukannya akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa.

Di Bukit Selamat, sisa pasukan Majapahit yang gagal mempertahankan Putri Meuga Gema mendirikan benteng. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, dan terus mencari sang putri.

Tidak jauh dari Benua, Mangkuraja Muda Sidinu mengkonsolidasikan pasukan Tamiang yang terpukul mundur dari Benua, dan bersiap menyerang balik.

Dibantu pasukan Samudera Pasai dan Aru, pasukan Tamiang menyerang pasukan Majapahit di Benua dengan sandi Sarang Jaya. Pertempuran sengit dan paling mematikan terjadi di sini. Korban berjatuhan di kedua pihak.

Pertempuran terbesar itu mengakhiri ekspedisi Gajah Mada di Tamiang. Pasukan Majapahit kalah total. Serangan Tamiang dilanjutkan ke pos-pos pasukan Majapahit sekitar Teluk Aru.

Pasukan tambahan yang datang dari Pulau Jawa untuk membantu Majapahit juga tidak memberikan pengaruh. Gajah Mada menyaksikan sisa pasukanya mengalami kejatuhan moral. Ia memutuskan kembali ke Pulau Jawa dengan membawa sejumlah orang Tamiang sebagai tawanan. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Versi lain menyebutkan Gajah Mada memutuskan mengakhiri ekspedisi di Tamiang dan Samudera Pasai akibat terluka parah dalam pertempuran paling menentukan. Ia sempat singgah di sebuah pulau untuk menjalani perawatan, sebelum kembali ke Pulau Jawa.

Ketiadaan catatan tentang pertempuran Tamiang menyebabkan kisah kekalahan Gajah Mada dan Majapahit di Aceh mengandung unsur spekulasi. Versi paling spekulatif adalah Gajah Mada tewas dalam pertempuran di Benua.

Belum adanya penelitian yang membenarkan Ekspedisi Pamalayu ke Tamiang membuat kabupaten baru ini tidak menarik sebagai lokasi wisata sejarah. Penduduk lokal tidak menemukan apa pun di lokasi yang disebut-sebut tempat pertempuran, istana Kerajaan Tamiang, dan perbukitan tempat Putri Meuga Gema ditawan. [] sportourism.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.