Dilihat 0 kali

TamiangNews.com  --  Konflik gajah dengan manusia sepertinya tak kunjung berakhir di perbatasan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Sudah beberapa kali diupayakan menghalau kawanan hewan berbelalai panjang ini dengan bunyi mercon dan meriam karbit. Memang, kawanan “abang kul” [sebutan untuk gajah-bhs Gayo] bergeser dan menjauh dari kawasan itu. Namun, beberapa minggu kemudian, “abang kul” itu kembali lagi.

Beberapa hari yang lalu, kawanan gajah yang jumlahnya mencapai 40 ekor lebih itu, mulai menyatroni ladang penduduk di Desa Karang Ampar dan Desa Bergang Kabupaten Aceh Tengah. Kehadiran hewan yang dilindungi ini sangat meresahkan. Selain merusak ladang dan tanaman milik warga, posisi terakhirnya berada sangat dekat dengan permukiman.

“Warga sangat khawatir, kawanan gajah itu akan masuk ke perkampungan,” ungkap Zulfikar Ahmad, koordinator Tim Disbunhut Aceh Tengah, di kediamannya kawasan Jalan Sengeda Takengon, sabtu [26/11/2016], sepulang dari lokasi penggiringan gajah.

Menurut Zulfikar, operasi penggiringan gajah sudah dimulai sejak Jumat lalu [25/11/2016]. Pihak yang terlibat dalam operasi ini meliputi tim Disbunhut Aceh Tengah, tim Conservation Response Unit [CRU], WWF, RAPI Aceh Tengah, serta warga Desa Karang Ampar dan Desa Bergang. Sebelum operasi dimulai, mereka membentuk 3 regu yang masing-masing dipimpin manhot [pawang gajah] dibawah koordinasi Hidayat Lubis, S.Hut, Kepala CRU DAS Peusangan.

Tugas regu 1 menggiring kawanan gajah dari arah selatan ke utara, regu 2 mengawasi agar kawanan gajah tidak menuju ke arah barat, sedangkan tugas regu 3 mengawasi dari arah utara. “Targetnya, kawanan gajah itu akan digiring ke sebuah lembah dipinggir Sungai Peusangan,” sebut Zulfikar yang mengikutkan 3 unit drone ke lokasi penggiringan gajah.

Penggunaan drone 1 dipiloti oleh Eka Rahmadi, drone 2 dipiloti oleh M. Hijratur Rizki dan drone 3 dipiloti oleh Nurdinsyah. Komunikasi antara Tim Drone Disbunhut Aceh Tengah dengan masing-masing regu dibantu oleh anggota RAPI Aceh Tengah.

Awalnya, penggunaan drone dalam operasi ini adalah untuk memastikan posisi kawanan gajah. Dengan diketahuinya posisi “abang kul” itu, selain dapat dihindari bentrok langsung antara anggota regu dengan kawanan gajah, juga untuk mengefektifkan proses penggiringan ke lokasi yang direncanakan, yaitu ke lembah disekitar Sungai Peusangan.

Ketika drone jenis DJI Phantom 4 itu mengangkasa, mesin tak berawak ini mengeluarkan bunyi mirip suara kawanan lebah. Seperti dituturkan oleh Nurdinsyah, salah seorang pilot drone, kawanan gajah yang sedang dipantaunya berlarian saat drone berada tepat diatas posisi hewan dilindungi itu. Kemudian ketinggian drone diturunkan oleh Nurdinsyah, ternyata kawanan gajah berlari semakin cepat.

Melihat fenomena itu, Tim Drone Disbunhut Aceh Tengah berkesimpulan bahwa drone jenis DJI Phantom 4 cukup efektif untuk menggiring kawanan gajah ke lokasi yang diinginkan. “Begitu takutnya, kawanan gajah itu malah mendaki bukit berhutan lebat yang kemiringannya mencapai 30%. Akhirnya posisi gajah tidak terpantau lagi oleh drone, ” ungkap Zulfikar Ahmad yang dini hari nanti akan kembali lagi ke lokasi penggiringan gajah.

Bukan isapan jempol Kawanan gajah takut terhadap suara lebah bukan isapan jempol. Hasil penelitian Lucy King, mahasiswi PhD dari Oxford University, seperti yang diberitakan oleh Tempodotco,menyarankan kepada para petani di Kenya Utara agar membuat pagar dengan sesuatu yang ditakuti oleh gajah, yaitu lebah.

“Pagar sarang lebah terdiri atas sarang yang saling berkaitan dan ‘boneka’ sarang lebah tergantung 10 meter terpisah terkait dengan kawat pagar itu. Jika terganggu, seluruh pagar kawat akan berayun dan membuat lebah ke luar,” kata King seperti ditulis Tempodotco. Dalam penelitiannya, King menuturkan 94 persen gajah akan menjauh ketika mendengar suara lebah. Menurut dia, pagar lebah sebagai “listrik alami” itu adalah solusi yang sangat hemat biaya dan efisien.

“Setelah mereka tahu ada sarang lebah aktif di pertanian, kami menduga mereka ingat dan akan menghindarinya pada masa mendatang,” ujar Lucy King kepada CNN yang dilansir kembali oleh Tempodotco.[] Aceh Insight

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.