Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, JANTHO -- Desa Lam Apeng, Lam Ateuk, Lam Tingkeum, dan Lambada di Kemukiman Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar, kini terancam tercemar asap putih dan gas beracun jenis karbon monoksida (CO) dan hidrogen sulfida (H2S) yang berbahaya bagi tubuh manusia dan bisa mengakibatkan kematian.

Kedua gas beracun itu keluar pada hari Rabu (23/11) dari bawah tanah kebun seorang warga yang mengandung bahan mineral batu bara yang tergolong masih muda.

“Gas disertai asap putih itu muncul akibat terpicu aksi pembukaan lahan yang dilakukan sekelompok masyarakat di areal perkebunan baru di Desa Lam Apeng dan Lam Ateuk, Kemukiman Lamteuba, Aceh Besar, dengan cara membakar,” kata Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh, T Syakur kepada Serambi di Banda Aceh, Jumat (25/11).

Syakur mengatakan, pihaknya mengetahui bahwa di Desa Lam Apeng dan Lam Ateuk terdapat gas CO2 dan H2S justru dari laporan masyarakat dua desa itu pada Rabu (23/11) lalu.

Esok harinya, Kamis (24/11), Syakur langsung menurunkan Tim Geologi Distamben Aceh ke lokasi. Tim itu dipimpin Kepala Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral, Dian Budi Dharma MT dan Kepala Seksi Geologi, Teuku Mukhlis MT ditambah tiga orang staf.

Di lokasi, kata Syakur, Tim Geologi Distamben Aceh melakukan pengukuran berbagai jenis gas berwarna putih yang keluar dari bawah tanah.

Dari hasil pengukuran gas yang dilakukan dengan menggunakan alat pengukur gas beracun, ada dua gas berbahaya yang berhasil terdekteksi tim geologi, yakni gas CO dan H2S.

Dari dua gas berbau tak sedap yang keluar dari dalam tanah itu, kata Syakur, ada satu gas yang kepekatannya melampui ambang batas toleransi, yaitu gas CO. Batas toleransinya 100 ppm, tapi dari hasil pengukuran yang dilakukan dengan alat pendeteksi ternyata gas CO yang keluar dari permukaan tanah di lokasi itu kadarnya mencapai 137 ppm. Artinya, melampui batas sebanyak 37 ppm.

Tak puas dengan pengukuran dari permukaan tanah, tim geologi itu pun turun ke bawah. Mereka mengukur kembali gas CO itu dari dalam tanah. Hasil pengukuran menunjukkan kadar gasnya malah lebih pekat, mencapai 416 ppm. Fakta ini mengindikasikan, areal batu bara yang terbakar di dalam tanah tersebut eskalasinya sudah meluas.

Adapun gas H2S yang keluar dari lokasi itu, kata Syakur, berdasarkan hasil pengukuran, kadarnya masih di bawah ambang batas, yaitu antara 3-15 ppm. Meski demikian, karena gas itu sangat bau, maka apabila terhirup manusia, ia bisa mual, pusing, dan muntah, karena ia merusak jaringan saraf pernapasan manusia.

Setelah mengetahui jenis gas dan kadar kepekatan gas beracun yang dikeluarkan dari bawah tanah tersebut, Tim Geologi Distamben Aceh menjelaskan kepada Danramil, Kapolsek, kepala desa, dan perangkat gampong setempat yang turut mendampingi Tim Geologi Distamben Aceh ke lokasi tentang bahaya kedua gas tersebut bagi kesehatan manusia. [] aceh.tribunews.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.