Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, KUALASIMPANG -- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh bersama Balai Besar Pemeriksaan Obat-obatan dan Makanan (BBPOM) Aceh, melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah truk pengangkut ikan dari Sumatera Utara (Sumut) yang masuk ke Aceh melalui Kualasimpang, Aceh Tamiang.

Pemeriksaan ini dilakukan di pos pemeriksaan perbatasan Aceh-Sumut, termasuk terhadap truk yang mengangkut ikan dari Aceh ke Sumut.

Pantauan Serambi di pos pemeriksaan, Rabu (23/11), petugas DKP dan BBPOM, menyetop setiap truk bermuatan ikan, baik yang menuju Aceh maupun yang menuju Sumut.

Petugas kemudian mengambil beberapa ikan untuk diperiksa kandungan formalin atau bahan pengawet pada sampel ikan tersebut.

Petugas juga mencatat pemilik dan plat kenderaan pengangkut, baru kemudian melakukan uji laboratorium oleh petugas analis, yang didatangkan ke lokasi.

Petugas analis laboratorium, Ir Lina Rumila mengatakan, dari sejumlah sampel ikan yang diperiksa, belum ditemukan adanya ikan yang mengandung formalin, borak, atau zat kimia lainnya untuk mengawetkan ikan-ikan tersebut.

“Kami melakukan pemeriksaan ini untuk melindungi konsumen ikan segar khususnya di Aceh, karena kami menerima informasi masih adanya nelayan, toke bangku, dan pengusaha yang masih menggunakan bahan kimia seperti formalin untuk mengawetkan ikan,” kata Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh, T Diauddin, didampingi Kasie pengawasan, Zulkarnain Haryar dan Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh Tamiang, Ir Fuadi, serta Kepala seksi sertifikasi BBPOM Aceh, Darwin, Rabu (23/11).

Pemeriksaan ini juga sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 31 tahun 2014 tentang Perikanan, khususnya terkait larangan menggunakan bahan kimia dan sejenisnya. Penggunaan bahan kimia pada ikan ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat yang mengonsumsinya.

Selain itu, juga akan membuat masyarakat ragu untuk mengonsumsi ikan. Padahal, pemerintah saat ini menggalakkan konsumsi ikan untuk peningkatan kecerdasan.

T Diauddin mengatakan, DKP bersama BBPOM dan pihak terkait lainnya, berkomitmen untuk memperketat pengawasan terhadap rantai distribusi ikan segar, khususnya yang masuk dari luar Aceh. “Apabila mengandung bahan kimia, truk ikan tersebut kami perintahkan kembali ke daerah asalnya,” tegasnya.

Kepala DKP Aceh, T Diauddin, mengaku dalam pemeriksaan yang dilakukan beberapa hari ini, belum menemukan ikan mengandung formalin atau bahan kimia lainnya.

Ia malah mendapat informasi baru, bahwa penggunaan bahan kimia itu tidak saja terhadap ikan, namun ada yang digunakan pada es batangan yang biasa digunakan untuk pengawetan ikan secara alami.

“Ada informasi yang kami terima, tidak tertutup kemungkinan bahan baku pembuatan es, ada yang mengandung formalin. Informasi ini akan segera kami tindaklanjuti,” ujarnya.

Pihaknya berharap, nelayan, pengusaha, dan toke bangku tidak menggunakan bahan kimia untuk mengawetkan ikan, baik pada ikan maupun pada bahan baku es batangan. Karena akan sangat merugikan konsumen. [] tribunnews.com, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.