Dilihat 0 kali

TamiangNews -- Pada 2005 lalu, saya sempat menemui tokoh Betawi yang saat itu berusi 75 tahun (lahir 22 September 1930 di Jakarta). Tapi badannya masih tampak gagah.

Bahkan ia masih dapat membaca tanpa harus menggunakan kaca mata. Jalannya masih cukup gesit untuk manula yang berusia tiga perempat abad. Itulah Haji Irwan Sjafi'ie, tokoh Betawi yang turut mendirikan Lembaga Kesenian Betawi (LKB).

Bahkan kakek enam orang anak dan 12 cucu ini, sampai tahun lalu masih aktif sebagai Ketua LKB yang bertujuan untuk melestarikan budaya Betawi di tengah maraknya budaya asing.

Kepada saya yang berkunjung ke kediamannya di Jl Setiabudi, Jakarta Pusat, Pak Haji --demikian ia kerap dipanggil-- tanpa sungkan mengaku pernah menjadi "jagoan", atau istilah sekarang, preman.

Ia menceritakan penggalan hidupnya di tahun 1950-an, ketika ia masih berusia 20 tahun. Sebagai anak Betawi, ia mahir maen pukulan (silat).

Kepandaiannya bermain pencak silat, ditambah lagi dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap, menjadikannya pemuda yang disegani.

Dia pun menjadi jagoan dan 'menguasai' seputar daerah Guntur, Menteng, tepatnya di bioskop Ratna di Menteng dan bioskop Gembira di Jl Kawi (kini keduanya sudah dibongkar dan dibangun pertokoan dan perkantoran). "Tiap bulan mereka nyetor sama saya," ujarnya.

Para preman di kawasan itu, sampai di bioskop-bioskop Metropole (kini Megaria), Menteng dan Garden Hall (kini merupakan bagian dari Taman Ismail Marzuki-TIM) tidak ada yang berani dengan dia. Sebagai jagoan, ia memiliki anak buah tidak kurang 120 orang. Mereka siap melaksanakan apa yang diperintahkannya.

"Terhadap anak buah saya yang penakut saya pukul dengan buntut ikan pari yang ujungnya runcing dan bergerigi. Hukuman ini sangat ditakuti. Karena disamping sangat sakit, kulit bisa berkelupas," ujarnya.Hidayag Datang Lewat al-Maidah

Di bioskop Ratna dan Gembira yang terletak antara di Jl Kawi dan Jl Papandayan, Menteng, merupakan posnya sehari-hari. Toko-toko di Pasar Rumput dan Guntur di kawasan Manggarai, setiap bulan 'wajib' menggulirkan upeti baginya.

Telat memberi setoran, tanggung sendiri akibatnya, begitu "hukum" yang ditetapkan olehnya.
Kadang-kadang, kalau bioskop lagi sepi sedangkan duit sudah tipis, ia dan kawan-kawan sengaja mencari keributan.

"Seperti ada orang yang memakai jam tangan yang cukup mahal harganya, kebetulan ia bertolak pinggang. Kita sengaja mencari keributan, dan saat ribut, tahu-tahu jam tangannya sudah digasak anak buah saya," ujarnya.

Irwan juga mengaku hidup dari hasil judi, bahkan minuman keras. Saya dan teman-teman membuka perjudian di berbagai tempat di Jakarta, seperti di Glodok, Tanah Tinggi, dan di Jatinegara.

"Kadang-kadang untuk menghindari razia oleh pihak kepolisian dan tentara, kita membuka tempat perjudian di Tugu, Puncak," ucap dia.Lama menekuni "jalan" haram membuatnya bosan dan risih.

Puncaknya, pada 1965, ketika terjadi peristiwa G30S/PKI. Entah karena alasan apa, ia dipercaya sebagai Ketua BP (Badan Pembantu) Pengganyangan G30S/PKI, di bawah binaan Markas Daerah Pertahanan Sipil di bawah pimpinan Letkol Obrien Sacakusumah.

"Dalam masa-masa itu, mulai timbul kesadaran dalam diri saya. Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, akhirnya tidak berdaya menghadapi kematian dan ia pun kembali ke kubur," ujarnya.

Dalam keadaan demikian, suatu ketika saya diundang untuk menghadiri peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Pasar Rumput. Salah seorang penceramahnya mengutip ayat Alquran dalam surah al-Maidah ayat 90 yang berbunyi:

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum minuman keras, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu dapat keberuntungan..."

Mendengar ayat tersebut, saya marah dan merasa disindir. Saya keluar dari tempat perayaan. Kemudian saya ambil batu, dan menimpuk tenda tempat peringatan Isra Mi'raj yang terbuat dari seng. Saya berlalu dan tidak ada yang berani menegur saya.

Hanya sang ayah, Haji Murtado, satu-satunya orang yang berani berhadap-hadapan dengannya. "Itu bukannye nyindir.

Siapa pun yang baca ayat itu, ya artinya begitu. Itu adalah wahyu Allah. Ini peringatan dari Allah. Mudah-mudahan elu perhatikan dan segera bertobat.

"Pergi Umrah Berkali-kali

Lama Irwan mencerna dan merenungi kata-kata ayahnya. Ia menemukan kebenaran di balik ucapan itu. Ia pun bertekad untuk "melawan" dirinya sendiri.

Tiap hari ia bangun pukul 03.00 pagi, lalu jalan kaki ke Masjid Attaqwa yang lokasinya lumayan jauh dari rumahnya untuk mendengarkan kuliah subuh.

Jalannya menuju tobat tidak selamanya mulus. Kerap kali teman-temannya mengejeknya. Misalnya, sepulang mengaji, ia ditegur dengan bahasa plesetan, "Baru kuliah susu, nih." Namun sebisa mungkin, amarah dibuangnya jauh-jauh.

Pada 1967, ketika Jakarta Fair dibuka di Monas, ia kembali didatangi rekan-rekan dan kolega bisnisnya. Ia diminta menjaga stan judi dengan bayaran cukup besar.

Saat itu, Irwan sudah bisa menjawab tegas, "Jangankan jaga judi. Bapak menang maen judi sekarang, lalu memberi saya uang, haram bagi saya menerimanya."

Irwan merayakan 'kemenangan' melawan dirinya dengan mengajak masyarakat membangun mushala kecil di Jl Muria, Ujung Menteng, yang hingga kini masih berdiri.

Setahun kemudian ia dikukuhkan sebagai wakil lurah Guntur. Kemudian menjadi lurah Karet. Ia sempat mendapat penghargaan Satyalencana dari Presiden.

Pada 1981, ia jadi Lurah di Petukangan Utara, dan mengajak masyarakat membangun jalan, masjid dan mushola, di samping menyantuni yatim piatu. Melarang segala bentuk judi termasuk biliar, dan pada tiap bulan Ramadhan mengadakan tarawih keliling.

Pada 1990 ditugaskan di kelurahan Cipulir, Kebayoran Lama. Pada 1992 ia berhenti dari aktivitasnya di pemerintahan dan mengabdikan diri pada LKB sampai Desember 2004.

Ia menyempurnakan rukun Islam pada 1974. Yang menarik, ia selalu datang ke Tanah Suci atas sponsor seseorang. "Pada 28 April 2004 saya dan istri diberangkatkan umrah oleh seorang dermawan," ujarnya.

Tawaran umrah kembali datang pada saya dan istri. Kali ini dari H Biem Benyamin, putra tokoh Betawi almarhum Benyamin Suaeb.

Sebenarnya pada Mei 2005 lalu juga ada yang ingin membiayainya umrah, tapi ditunda. "Jadi kalau Allah mengizinkan tiga kali saya umrah dibiayai orang," ujarnya.

Ia mengaku selalu ada semangat baru sepulangnya dari Tanah Suci. Favoritnya di sana adalah berdoa di Multazam.

"Ya Allah jangan Engkau akhiri kedatanganku di masjid-Mu ini, dan jangan Engkau jadikan kedatanganku untuk terakhir kali: doa itu yang selalu saya baca." [] republika.co.id, foto : ilustrasi

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.