Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, LANGSA -- Jika dulu pohon bakau di dalam hutan mangrove hanya bisa dijadikan sebagai bahan baku arang. Tapi saat ini, potensi hutan mangrove ini sudah dapat dijadikan beragam produk ramah lingkungan. Mulai dari perwarnaan batik tulis berbahan organik (nonkimia), bahan baku pengganti tepung membuat kue kering maupun basah, kerupukdaun jeruju, hingga sirup olahan dari pohon beureumbang.

Perkembangan potensi hutan mangrove itu telah dijadikan momentum oleh para aktivis Aceh Wetland Foundation (AWF)--menjadikan gerakan baru dalam melindungi hutan mangrove di pantai timur Aceh. "Kami mencoba membuka jalan baru, meski kami tahu akan banyak tantangan dan hambatannya," kata Manajer Kampanye dan Riset AWF, Khairun Nufus SP kepada Serambinews.com, Kamis (3/11/2016).

Salah satu tantangan yang dialami, kata Nufus, masih minimnya bahan baku yang makin hari makin berkurang. Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan penanganan serius dari semua pihak, khususnya Pemerintah Aceh.

Pun begitu, semangat para aktivis ini tak kendur begitu saja. Buktinya, sampai hari ini, mereka masih membina masyarakat di sebuah desa di piggiran kawasan hutan--menekuni kerajinan membatik. Ada banyak produk yang bisa dihasilkan, misalnya batik dari pewarnaan organik, kerupuk dari daun jeruju, sirup dari buah beureumbang, dan juga kue dari bahan dasar buah si api-api (aviecenna).

Batik tulis ini tergolong langka dan bisa menjadi produk unggulan, karena selain tidak ada bahan kimia dalam pewarnaannya, juga diolah dari hasil lukisan tangan anak-anak gadis desa di kawasan hutan.

Berbekal sebuah canting, warna dari adunan ranting mangove yang sudah direbus dihangatkan dalam sebuah kompor khusus. Tangan-tangan cekatan gadis desa ini mampu menyulap kain katun ataupun sutera menjadi produk berharga. Maklum saja, meski pasar di dalam negeri masih lemah, namun, batik tulis mangrove ini sudah mulai diminati masyarakat kelas menengah ke atas di negara maju.

Bicara harga, batik tulis mangrove ini dibandrol dengan harga yang sedikit mahal. Mulai dari Rp 700 ribu hingga mencapai jutaan rupiah. "Semua tergantung bahan dasar kain, jika sutera tentu mencapai jutaan," kata Makbid Laila, ketua kelompok membatik dari Desa Alue Beurawe, Kecamatan Langsa Kota.

Proses pembuatan juga akan memakan waktu sedikit lama. Pasalnya, proses melukis dengan tangan dan juga perebusan sebelum dijemur sampai kering. "Satu kain selendang bisa sampai 2 hari baru siap, karena tergantung kondisi cuaca juga," tambah Makbid Laila.

Meski belum mendapat permintaan yang banyak, masyarakat desa itu tetap antusias menghasilkan kain batik tulis berbahan mangrove. "Kami terus berupaya mensosialisasikan produk ramah lingkungan ini, karena selain mendukung ekonomi rakyat, juga akan mendukung kampanye konservasi hutan," timpal Khairun Nufus.

Selain Pemko Langsa, kata dia, hingga saat ini belum ada pihak yang mendukung langsung gerakan konservasi berbasis ekonomi masyarakat ini. "Kami berharap Pemerintah Aceh ke depan bisa menjadikan potensi ini sebagai kebijakan nyata untuk mendukung langkah konservasi dan ekonomi masyarakat kawasan hutan bakau," pungkas Nufus.

Langkah nyata yang diupayakan kalangan aktivis lingkungan di Langsa ini, ternyata belum sepenuhnya mendapat perhatian dari masyarakat luas di Aceh. Namun produksi terus digenjot, meski diproduksi terbatas dan hanya digunakan di kalangan sendiri.

Hal itu akan terus digalakkan, meski penuh dengan keterbatasan. Karena langkah nyata konservasi itu adalah dengan mensejahterakan masyarakat di kawasan hutan dengan menciptakan ragam produk ramah lingkungan. Bagaimana dengan Anda? Jika berminat Anda bisa segera memiliki batik ramah lingkungan dari hasil hutan mangrove. [] aceh.tribunews.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.