Dilihat 0 kali

TamiangNews.com, SOSOK -- Syaikh Ahmad bin Muhammad As-Soorkati al-Khazarji al-Anshari, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syaikh Ahmad Surkati, dilahirkan di Dunggulah, Sudan, pada tahun 1874, berasal dari kalangan keluarga yang taat beragama.

Syaikh Ahmad Surkati ketika masih muda telah banyak menimba ilmu hingga ke Mekkah dan Madinah, sehingga berbagai disiplin ilmu berhasil beliau kuasai, seperti Al-Qur’an, hadits, tafsir, fikih, tauhid dan ilmu falak. Tercatat beberapa nama besar yang pernah memberikan didikan dan pelajaran kepadanya, seperti Syaikh Saleh Hamdan al-Maghribi, Syaikh Muhammad al-Khayari al-Maghribi, Syaikh Ahmad al-Barzanji dan Syaikh Muhammad bin Yusuf al-Khayyath.

Didukung oleh semangat tinggi dan kecerdasan yang dimilikinya, pada tahun 1906, Surkati berhasil memperoleh gelar kesarjanaan “Allamah” dalam bidang ilmu bahasa Arab dan ilmu Agama Islam, dengan mempertahankan tesisnya “Al-Qadhaa wal Qadar”. Ijazah tersebut merupakan ijazah tertinggi sebagai guru agama dari pemerintahan Khilafah Turki Usmani di Istambul. Beliau tercatat sebagai pelajar Sudan pertama yang menerima sertifikat itu dan sekaligus seorang di antara empat orang guru yang semasa dengannya di negeri Arab. Oleh karena itu, Ahmad Surkati kemudian diangkat menjadi Mufti di Mekkah.

Selama di Mekkah, Surkati banyak mengenal tulisan-tulisan Muhammad Abduh. Termasuk di dalamnya kiriman majalah Al-Manaar yang diterimanya secara tetap. Disamping itu, Surkati mendalami pula masalah pembaharuan Islam dari tulisan-tulisan Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

Karena dikenal sebagai seorang alim besar, maka pada tahun 1911 Syaikh Ahmad Surkati diundang ke Jakarta bersama Muhammad Tayyib dari Maroko dan Muhammad Abdul Hamid dari Sudan sebagai tenaga pengajar oleh Jamiat Khair (1905), yang mendirikan sekolah-sekolah Islam berdasarkan metode pendidikan dan pengajaran modern. Surkati sendiri mendapat kedudukan sebagai kepala sekolah di Pekojan (Jakarta) dan sebagai Penilik Sekolah-sekolah yang dibuka Jamiat Khair. Namun, karena fatwa Syaikh Ahmad Surkati mengenai kafaah mendapat kecaman dan fitnahan, maka tak lama kemudian di tahun 1913, Syaikh Ahmad Surkati mengundurkan diri dari Jamiat Khair.

Akan tetapi, karena jiwa pendidiknya masih melekat, maka pada tanggal 15 Syawwal 1332 H atau 6 September 1914, beliau mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Jakarta dengan dukungan para sahabat dan pemuka masyarakat lainnya. Langkah selanjutnya adalah mendirikan Jamiyyat al-Islah wal-Irsyad, Perhimpunan Reformisme dan Pimpinan yang dikenal dengan Al-Irsyad.

Syaikh Ahmad Surkati nampaknya sadar bahwa masyarakat Islam Indonesia ketika itu umumnya dalam keadaan mundur. Ia melihat keadaan sosial, moral dan intelektual mereka menyedihkan. Banyak kebiasaan mereka yang menyimpang dari ajaran Islam. Kegiatan bid’ah, khurafat, takhayul dan bahkan feodalisme merajalela dimana-mana. Penghormatan terhadap orang alim sangat berlebihan, sehingga menjurus kepada kultus individu. Menurut Syaikh Ahmad Surkati, terapi terhadap berbagai penyakit masyarakat tersebut adalah dengan mengajak umat Islam kembali kepada ajarannya yang murni, yaitu berdasarkan Qur’an dan Hadits. Hal ini beliau telah paparkan dengan gamblang dalam majalah Azh-Zhakhirah Al-Islamiyyah yang diterbitkan mulai Agustus 1923.

Perasaan hati Syaikh Ahmad Surkati itu pernah dituangkan oleh H. Abubakar Atjeh dalam bukunya “Sejarah Hidup KH. Wahid Hasyim,” antara lain: “Surkati pernah mengeluh: ‘Hatiku merasa prihatin melihat Bangsa Jawa diperbudak dan dihina, baik oleh kaum penjajah Belanda maupun dipandang rendah oleh mereka yang menganggap dirinya lebih mulia dari mereka.’”

Kehidupan Syaikh Ahmad Surkati tak dapat dipisahkan dengan sejarah perkembangan umat Islam secara umum. Pandangan-pandangan beliau berusaha memajukan praktek-praktek keagamaan yang benar di kalangan orang Islam serta mendorongnya untuk meninggalkan praktek-praktek yang tidak dibenarkan syariat Islam. Misalnya soal ziarah kubur, menurut Syaikh Ahmad Surkati tidak boleh dirasuki oleh kegiatan-kegiatan munkar seperti berdoa melalui perantara (tawasul) si mayit, dan meminta berkat kepada orang yang sudah meninggal. Hal ini telah beliau uraikan dalam fatwanya di kitab “Al-Masa’il al-Thalats” –yang juga menjelaskan kedudukan ijtihad dan taqlid; sunnah dan bid’ah.

Perjuangan Syaikh Ahmad Surkati di dalam menegakkan kemurnian Islam tidak hanya disalurkan lewat pengajaran formal di Madrasah yang dipimpinnya saja, melainkan disalurkan pula lewat tulisan-tulisan, kuliah dan ceramah-ceramah serta berbagai artikel di majalah. Sehingga tak mengherankan bila pada Kongres Islam di Bandung, 8 Februari 1926, karya beliau “Huquuqun Nisaa” dijadikan materi yang dibacakan oleh A.M. Sangadji.

Syaikh Ahmad Surkati termasuk seorang ulama yang kreatif dan produktif. Beberapa karya tulisannya telah diterbitkan dalam bahasa Arab, Melayu dan Belanda, antara lain: Surat al-Jawab, Al-Wasiyyat al-Amiriyyah, Zedelee Uit den Qor’an dan Hak Soeami Istri.

Di samping itu, Syaikh Ahmad Surkati adalah seorang pemimpin yang besar. Sifat kepemimpinannya itu terlihat ketika beliau berdebat dengan Semaun, dari Syarikat Islam (Merah), dalam suatu pertemuan Muktamar Islam di Cirebon. Debat dan tukar fikiran tersebut menarik dan berkisar pada masalah “Dengan apa Indonesia bisa merdeka? Dengan Islamkah atau Komunisme?” Masing-masing tetap mempertahankan pendapatnya. Syaikh Ahmad Surkati berpendapat bahwa Indonesia hanya bisa merdeka dengan Islam, sedangkan Semaun menganggap dengan komunisme.

Namun, Syaikh Ahmad Surkati memang seorang demokrat sejati, yang menghargai kawan maupun lawan. Beliau tetap memuji lawan debatnya itu, dan tidak segan-segan menunjukkan kekagumannya terhadap kegigihan Semaun membela idealismenya. Itulah sebabnya beliau dihargai oleh kawan dan lawan. Bahkan beliau banyak mempunyai sahabat dengan berbagai tokoh masyarakat maupun tokoh pergerakan nasional. Hal ini juga disebabkan karena kepopulerannya sebagai seorang alim yang sangat dihormati dan memiliki kepribadian yang utuh. Di antara sahabat-sahabatnya adalah H. Agus Salim (pemuka Syarikat Islam), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Cokroaminoto (pemuka Syarikat Islam), A. Hassan (pendiri PERSIS), dan H. Mas Mansyur serta masih banyak yang lainnya. Bahkan hubungan Syaikh Ahmad Surkati dengan Ahmad Dahlan sudah terjalin sebelum adanya Muhammadiyah maupun Al-Irsyad, yaitu kala keduanya masih berkecimpung di Jami’at Khair (Ahmad Dahlan adalah anggota Jami’at Khair dan Syaikh Ahmad Surkati sebagai Kepala Bidang Pendidikan Jami’at Khair).

Selain itu, murid-muridnya seperti M. Yunus Anis, Kahar Muzakkir, Farid Ma’ruf, HM. Rasyidi, Umar Hubeis, AR. Baswedan dan M. Natsir adalah orang-orang yang kemudian menjadi penting kahadirannya di kancah perjuangan dan pembangunan umat. Dan tak sedikit murid-murid beliau yang kemudian membangun dan membuka madrasah dan pesantren di luar jalur Al-Irsyad, baik di Jawa, Sumatera maupun di daerah lainnya di Indonesia. Bung Karno pun ketika dalam pembuangan di Ende mengenal Syaikh Ahmad Surkati lewat brosur-brosur dan buku-buku yang ditulis beliau. Sehingga ketika bebas dari Ende, Bung Karno sering bertandang ke tempat kediaman Syaikh Ahmad Surkati, bahkan ikut berjalan kaki sewaktu mengantar jenazah almarhum ke pemakaman Karet, Jakarta.

Walaupun dalam catatan kehidupannya dijumpai nama-nama seperti Prof. Dr. Snouck Hurgronje, Van Der Plas dan Prof. GF Pijper yang kesemuanya adalah pejabat Belanda, namun pandangan beliau terhadap pemerintah kolonial tidak pernah berubah. Baginya, Belanda bukan saja penjajah politik tetapi juga penjajah agama. Hamka sendiri ketika mengenang Syaikh Ahmad Surkati menyatakan bahwa Surkati adalah orang yang teguh pendirian. Walaupun kedua belah matanya telah buta, namun masih tetap mempertahankan agama dan menyatakannya dengan terus terang terutama kepada pemerintah jajahan Jepang. “Ilmunya amat dalam, fahamnya amat luas, dan hatinya sangat tawadhu,” tutur Hamka.

Tanah air Indonesia bagi Syaikh Ahmad Surkati, sebagai seorang pendidik, mubaligh dan pemimpin masyarakat, telah begitu menyatu dengan dirinya hingga beliau wafat pada 6 September 1943 di tempat kediamannya yang sekarang dikenal dengan Jl. KH. Hasyim Asy’ari No. 25, Jakarta Pusat. Apalagi kedatangan Syaikh Ahmad Surkati ke Indonesia ini kemudian menjadi penting dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia. Bahkan Syaikh Ahmad Surkati diakui sebagai pelopor gerakan pembaharuan Islam di Indonesia, yang menurut Soekarno (presiden pertama RI) telah ikut mempercepat lahirnya gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. [] Abdul Aziz Husein Alkatiri/ahmadsurkati.com

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.