Dilihat 0 kali

Salam TN -- Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, selasa (26/10) telah menggelar rapat pleno penarikan nomor urut Cagub-Cawagub Aceh.

Ada yang menarik dari hasil penarikan nomor undian tersebut. Masing-masing pasangan mempunyai makna yang berbeda terhadap nomor undian. Pasangan pertama menyebut nomor satu memiliki arti bersatu padu. Sementara pasangan nomor urut dua memaknai sebagai dua kalimat syahadat. Pasangan nomor urut 3 memberi makna yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Pasangan yang memperoleh nomor urut empat juga punya makna sendiri, angka empat mengingatkan 4 Desember yaitu miliad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menurut mereka jadi salah satu hari bersejarah di Tanah Rencong.

Pasangan nomor urut 5 punya arti tersendiri, rukun Islam ada 5. Sementara pasangan terakhir yang bernomor urut enam seperti mengulang sejarah, mereka pernah keluar sebagai pemenang Pilkada.

Yang menarik adalah lebih banyak pasangan calon yang memaknai nomor urut dengan simbol-simbol agama Islam. Politisasi agama sepertinya adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh para partai politik demi memperoleh banyak dukungan. Menurut mereka agama mempunyai daya tarik tersendiri dalam meraih simpati dan dukungan.

Yang perlu diwaspadai masyarakat adalah politisasi agama cenderung memberikan pencitraan saja dan terkesan pembodohan masyarakat. Masyarakat dibuat tidak memperhatikan kredibilitas dari pasangan calon atau partai politik pengusung.

Memang penggunaan simbol agama dalam politik oleh banyak kalangan dianggap sebagai hal yang lumrah. Penggunaan simbol agama dalam politik adalah bentuk komunikasi politik yang disampaikan calon pemimpin kepada masyarakat.

Dengan menggunaan simbol tersebut, para calon hendak menunjukkan citra diri secara positif. Namun para calon harus ingat bahwa simbol sebagai bentuk komunikasi tidak selamanya akan dipahami dengan makna yang sama oleh masyarakat sebagaimana maksud penggunaan simbol tersebut oleh sang calon gubernur/wakil gubernur.

Bisa jadi, penggunaan simbol yang semula bertujuan untuk mendapatkan citra positif justru dinilai negative oleh masyarakat. Masyarakat mungkin akan berfikir penggunaan simbol agama tersebut hanya menjadi trik dan sebatas alat propaganda politik yang tidak tulus.

Masyarakat Aceh sekarang harus bijak dalam memilih, penilaian secara bijak adalah penilaian yang tidak terbatas pada hasil daya upaya pencitraan diri para calon secara instant melalui poster, baliho, maupun media kampanye lainnya. Masyarakat Aceh harus membuka kembali ingatan mereka untuk melihat track-record dari masing-masing kandidat yang bakal bertarung dalam pilkada. Dengan melihat track record tersebut, dapatlah dinilai siapa saja yang patut dipilih dan siapa saja yang tidak semestinya terpilih. Sehingga diharapkan, dengan kebijaksanaan masyarakat tersebut ikhtiar pembangunan Aceh lima tahun ke depan dapat berjalan dengan benar demi kemaslahatan bersama. [] Redaksi TN

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.