Dilihat 0 kali

TamiangNews.com - Inilah orang yang punya ide mengembangkan cula badak sintetis. Dia berharap, produk tersebut siap dipasarkan dalam 2 tahun mendatang.

Matthew Markus, CEO dari Pembient, percaya bahwa mengenalkan cula badak sintetis yang sangat mirip dengan aslinya, akan mengurangi perburuan dan pembunuhan badak.

Para pegiat konserasi menentag usahanya, dan mengatakan bahwa rencana tersebut “terlalu berisiko.” Mereka bahkan mendorong pelarangan produk tersebut untuk dipasarkan. Mengapa?

Start-up badak

Selama bertahun, pengembangan berbagai produk alternatif buatan manusia untuk menggantikan produk yang alami beberapa kali berhasil dilakukan.

Bunga anggrek yang dibuat di laboratorium telah berhasil menjadi alternatif bagi para kolektor anggrek. Begitu juga dengan bahan kimia sistetis yang ditemukan dalam empedu beruang telah diterima dan dipakai dalam pembuatan obat-obat tradisional China.

Kini, beberapa start-up sedang mencari cara untuk mengembangkan alternatif cula badak dan gading gajah. Yang paling gencar dan maju dalam hal ini adalah perusahaan bernama Pembient, yang mengklaim bahwa mereka sudah hampir selesai membuat cula badak yang sangat mirip dengan aslinya.

“Awal tahun ini, kami telah membuat prototif yang detil. Produk itu solid, tapi tak mirip dengan cula badak. Dan kini, kami sedang membuat yang jauh lebih mirip, dan solid” kata CEO Pembients, Matthew Markus di pertemuan CITES sebagaimana dilansir dari BBC.

“Cula badak tiruan ini akan siap dalam dua tahun, kecuali para investor lari dari kami” lanjutnya.
Mathew menyadari akan banyak pertentangan dari para pegiat konservasi dan satwa liar. Mereka khawatir, justru cula tiruan ini akan menaikkan tingkat perburuan ke level yang lebih buruk.

Jumlah badak yang dibunuh untuk diambil culanya naik drastis dalam sembilan tahun terakhir. Tahun 2007, 13 badak terbunuh di Afrika Selatan. Tahun lalu, jumlahnya meningkat menjadi 1.175 individu!

Para pegiat konservasi secara terang-terangan menolak ide cula badak sintetis. “Kami sangat khawatir, cula sintetis ini justru akan menjadi alat untuk menutup-nutupi perdagangan ilegal cula badak” kata Lee Henry dari WWF.

“Bagaimana para penegak hukum di lapangan bisa membedakan antara yang asli dan yang tiruan nantinya?”
Pasar gelap

Bagi Matthew, sulitnya membedakan antara produk sintetis dan cula badak asli merupakan tujuan utamanya.

“Para pedagang ilegal ini tidak didukung negara, jadi produk ‘palsu’ yang sama persis akan mempunyai dampak besar di pasar gelap” lanjutnya.

“Kalau para pembeli cula badak percaya bahwa produk sintetis adalah cula badak asli, ini adalah kemenaangan bagi pelestarian badak”

Matthew menyadari, pendekatannya ini bukan tanpa risiko. Tapi menurutnya, produknya tidak akan menjadi ancaman seperti yang ditakutnya para penentangnya.

“Dalam pengobatan tradisional, orang lebih memilih produk-produk dari alam liar, bukan dari peternakan atau bahan sintetis” kata Lee Henry.

“Sejarah sudah membuktikan, ketika kita membuat produk tiruan, permintaan untuk produk asli tidak akan turun” lanjutnya.
Para pegiat konservasi juga menyatakan bahwa produk hasil derivasi spesies-spesies terancam harus diatur dalam CITES. Jika cula sintetis diambil dari DNA badak seperti yang termaktub di Appendix I, maka semua perdagangan cula sintetis harus dilarang.

Sekretariat CITES akan mempelajari hal ini, dan mereka akan memberikan keputusan tahun depan. Matthew Markus mengatakan bahwa dia akan menerima keputusaan apapun, namun menurutnya, melarang produknya di pasaran, jika benar nanti produknya berhasil mencapai pasaran, adalah sebuah kesalahan, jika kita semua serius menghentikan perburuan badak.

“Cara tercepat melawan perdagangan cula badak adalah mendukung adanya cula sintetis, bukan menghukumnya,” paparnya.[] Mongabay.co.id

Comments
0 Comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.